Massa Demo, Bupati Nikson Nababan Pertahankan Nama Bandara Silangit

Bupati Nikson Nababan Pertahankan Nama Bandara Silangit – Tak sedikit massa yang melakukan aksi protes ke kantor Bupati Tapanuli Utara atau Taput. Terhitung ratusan orang berdemo untuk memprotes Bandara Internasional Silangit yang berganti nama menjadi Bandara Raja Sisingamangaraja XII. Massa yang mengatasnamakan diri Masyarakat Adat Desa Pariksabungan, Kec Siborongborong tersebut protes atas kebijakan yang dibuat oleh Kementrian Perhubungan. Secara tegas menolak pergantian nama bandara. Massa demo tersebut datang di kantor Bupati Taput yang disambut oleh para pejabat Pemkab Taput. Tak hanya itu saja, terdapat pengawalan dari petugas Polres Taput dan Satpol PP Taput.

Para pendemo yang terdiri dari para tokoh adat/masyarakat, kaum ibu, dan para tokoh pemuda tersebut tegas tetap memilih untuk mempertahankan nama Silangit. Mereka menegaskan bahwa penolakan tersebut bukan karena tidak menghargai sosok pahlawan nasional Sisingamangaraja XII. Namun karena adanya kisah pahit yang dialami oleh leluhur mereka. Oleh karena itu, nama Silangit sebagai bandara akan tetap dipertahankan. Dalam demo tersebut terlihat beberapa spanduk yang dibawa oleh pengunjuk rasa yang bertuliskan “Kami masyarakat adat menolak pergantian nama Bandara Silangit menjadi Bandara Internasional Sisingamangaraja XII. Bandara Internasional Silangit harga mati.”

Perubahan nama yang memicu perdebatan

Salah satu orator yang bernama Pangot Simanjuntak mengatakan bahwa pada saat itu rata-rata kaum laki-laki tewas melawan Belanda untuk mempertahankan tanah tersebut, karena sangat banyak darah dan nenek moyang mereka tewas di tanah tersebut. Dan dengan putus asa saat ada anak yang bertanya tentang ayahnya, ibu-ibu hanya bisa menjawab, “Kepada Tuhanlah kita mengadu, karena hanya salib yang dilangitlah tempat kita mengadu saat ini.” Pada saat itu juga, orator lain yang bernama Horden Silalahi juga menuntut Plt Bupati Taput, Maulite Simorangkir untuk menjelaskan proses pergantian nama bandara tersebut.

Tak hanya itu saja, terdengar orasi lain yang mengatakan bahwa mereka menolak pergantian nama Bandara Internasional Silangit menjadi Bandara Internasional Sisingamangaraja, tanpa melibatkan para tokoh adat Kenegerian Pohan. Nenek moyang mereka yang bernama Si Bagot Ni Pohan sudah tiris darah untuk mempertahankan tanah leluhur Silangit.

Mereka menanyakan tentang dasar pergantian nama bandara yang dilakukan Maulite Simorangkir dan mereka juga menegaskan bahwa pergantian tersebut seharusnya diketahui masyarakat dan tokoh adat. Mereka menanyakan alasan pergantian dan menuntut penjelasan kepada Maulite Simorangkir tentang hal tersebut. Dan pada saat itu, Nikson Nababan selaku Bupati Taput sedang cuti karena ikut menjadi calon Bupati Taput 2018 sehingga Maulite Simorangkir yang menandatangani perubahan nama bandara tersebut. Oleh karena itu, Maulite Simorangkir terus didesak untuk mempertanggungjawabkan tanda tangannya sebagai Plt Bupati Taput yang mengajukan pergantian nama bandara.

Harus mengikuti etika

Desakan tersebut membuat Maulite Simorangkir menghampiri pendemo.  Beliau mendengarkan orator yang menyatakan penolakan keras pergantian nama Bandara Internasional Silangit secara bergantian. Mendengar semua penolakan tersebut, Maulite Simorangkir menyatakan bahwa sebagai Plt Bupati Taput harus turut dengan etika. Karena bupati yang lain seperti Humbahas, Tobasa, dan Samosir sudah menandatangani usulan pergantian nama Bandara internasional Silangit.

Dalam aksi protes tersebut, Bupati Taput Nikson Nababan yang menemui pendemo. Mengatakan bahwa semua kritik dan aspirasi masyarakat akan ditampung pemerintah dan segera disampaikan ke pusat. Nikson Nababan juga menambahkan akan sesegera mungkin diadakan pertemuan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan tetap mengacu pada aspirasi dan suara rakyat. Tak hanya kantor bupati, kantor DPRD juga menjadi tujuan massa untuk menyampaikan tuntutan. Wakil Ketua DPRD Taput Reguel Simanjuntak yang menyambut massa menerima aspirasi warga dan akhirnya warga tertib meninggalkan kantor DPRD Taput.

Tags: